Sabtu, 04 Desember 2010

Topografi masyrakat Lintang Kabupaten 4 Lawang

Mixed antara sosial ekonomi, bentang alam, faktor genitika akan coba saya sajikan dalam tulisan ini.

Karakteristik keras masyarakat Lintang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain Faktor sumber-sumber ekonomi : Masyarakat Lintang berpenghasilan dari pertanian kopi dan sedikit padi. Sebelum kisaran tahun 2008, akses ke kebun / umoh ditempuh dengan berjalan kaki melewati sungai besar dan kecil, bukit, tebing, Fluktuasi harga kopi yang sangat memiluhkan adalah penyumbang lain karakteristik masyarakat lintang yang konon kabarnya keras, egois, dan mementingkan keuntunggan pribadi.



Masyarakat lintang adalah keturunan orang-orang Islam Demak yang menikah dengan orang-orang dari Pasemah dan sedikit keturunan Gumay, Konon kabarnya Nenek moyang lelaki berasal dari Demak dan Yang perempuan adalah penduduk asli kadipaten di seputaran Pasemah dan Gumay yang konon keturan raja. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik masyarakat Lintang yang cendrung bersifat mempertahankan daerahnya tidak ingin orang lain masuk ke wilayah mereka yang kalau ditinjau secara pisikologi adalah sifat wanita yang cendrung ketat dan sayang terhadap benda kepunyaannya.

Hal ini bisa kita lihat tidak banyak orang dari luar lintang yang bisa bertahan di lintang, lihat saja orang jawa yang dikenal getol merantau, atau orang-orang Bali yang coba masuk program transmigrasi, hanya segelintir saja yang mampu bertahan, berbeda dengan corak masyarakat disekitarnya seperti Pagar Alam yang lebih heterogen.

Selain itu kecendrungan orang lintang memanggil suaminya dengan nama atau paling mesra KAMU bukan dengan sebut bapak, kakak apalagi sayang/ hal ini dimungkinkan karena nenek moyang wanita mereka dulu adalah keturunan raja.

Dengan tidak bermaksud untuk membela kaum saya, sesungguhnya orang-orang lintang memiliki karakter yang sangat baik, sebagai contoh silahkan anda sekalian pergi ke lintang ketika musim panen tiba, anda tidak akan sulit bernegosiasi dengan mereka, mereka cendrung mengiyakan apapun, 

Hanya saja orang-orang Lintang ini sangat ekpresif dalam menyikapi sesuatu,apapun itu,ketika mereka musim peceklik mereka pun sangat agresif di seputaran Ulu Musi dalam rangka aksi memenuhi kebutuhan perut.

Jumat, 03 Desember 2010

Kenyataan Hidup Di Tinjau Dari Cara Memenuhi Kebutuhan

Desakan, Himpitan, Persaingan, adalah kata yang acap kali kita dengar dalam hal-ikhwal pencapaian kebutuhan hidup. Secara tidak munafik Kulo mengatakan hal ini sama dengan uang.


Kebutuhan akan uang telah mendesak kita, menyudutkan kita, membawa kita kepada pilihan-pilihan luar biasa sulit, pahit, perih, prustasi lebih konyol lagi lari ke meditasi tempat-tempat sepi lari dari hiruk-pikuk dunia panah mendekati crazy. Menyiksa idealis kita yang tidak jelas. 

Korban bulan-bulanan Perang fisik dua idiologis yang di kebiri paham yang merontokan.

Saya anda dan kalian kalap akan terjangan keinginan memenuhi kebutuhan perut, atas perut, bawah perut, kebutuhan gengsi atau kebutuhan jidat. 

Kita dihadapkan pada pilihan terseret "ikut arus, lebur dalam hidangan pesta ala barat vs timur"atau tenggelam menjadi seolah-olah pecundang, terkucil dalam dunia yang kecil, tersingkir dari kehidupan dunia yang cuman sekali, terpojok di sudut gelap nan sempit, kotor dan bau kehidupan.

Saya ambil contoh yang mungkin kontroversi adalah peristiwa pesto pora Hari Raya : satu pihak ada yang berpesta-pora dengan baju baru, makan minuman melimpah lezatnya disisi lain ada mahluk-mahluk gagal dalam sudut pencapaian kebutuhan ekonomis yang piluh hatinya, sakit dan sangat ingin sama dengan yang berpesta suka ria, tapi apa daya mahluk ini harus terpojok berlinanggan air mata, menjadi tempat penebus dosa para pendosa yang berkorban sekilo daging atau berzakat beberapa kilo beras, sesuai dengan tuntunan Rasul konon kabarnya, Mereka tidak boleh lapar selama hari Raya, besok lusa terserah....

Ini sesungguhnya pendorong sikap kalap, gregetan,  kita ambil semuanya, sikat selagi bisa, toh bukan saya saja yang seperti ini,  toh nanti bisa kita tebus.. 

Perbuatan merugikan orang lain yang telah menginfeksi seperti halnya virus, sebagian besar manusia, secara materil dan inmateril, meninggalkan borok bernanah, mewujud menjadi kusta kehidupan.

Bisa di tebus dengan "Cinta Satu Malam" Luar biasa sudut pandang saya yang sudah tergelincir terjun bebas, atau kita terlalu munafik untuk mengakui kalau itulah yang sedang akan lagi kita terjadi. Saya yang salah atau kita yang sudah miring. Kita sudah tergiring ke arah materialistis kontomporer,  

Foot Note : dikeberi sama dengan hidup tapi tidak produktif, tidak bisa berkembang "biak"

Kamis, 25 November 2010

Biografi Penulis

Lahir Di sebuah Desa bernama Suka Dana (Suku Dana), Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan.

Karena Perjalan sejarah orang tua yang kurang mulus, Peri dibesarkan tanpa sosok seorang Bapak, Mereka divorce,yang aku tau bapak ku bernama Pe'i dan cukup mirip dengan aku, aku sendiri belum pernah melihat fhotonya.


Ikut kakek dan nenek di Bengkulu, aku masuk Sekolah Dasar SD Negeri 74 Pagar Dewa Bengkulu, kakekku adalah seorang supir truk pengangkut pasir, koral, kayu bakar, terkadang barang pindahan.